Beranda > Psikologi > Curiga, Baik Atau Buruk?

Curiga, Baik Atau Buruk?

28 Agustus 2010

Curiga. .kata yang biasa kita dengar dalam masalah hubungan seseorang, tapi curiga apakah baik atau buruk? kadang curiga = waspada, kadang curiga = berfikiran negatif & tidak percaya dengan seseorang. .lalu bagaimana?

Secara umum karakter manusia itu beragam, ada yang baik maupun ada yang tidak baik. Salah satu indicator sifat manusia tersebut adalah perasaan yang dimilikinya. Yang sering terjadi adalah sifat curiga. Curiga bagi sebagian orang boleh-boleh saja, namanya juga mawas diri. Sikap curiga itu berarti adalah sikap kehati-hatian dari kita terhadap orang lain.

Namun, sering kali orang punya sifat curiga berlebihan. Sepertinya itu udah bener2 keterlaluan banget.  Sikap curiga berlebihan itu misalnya aja, selalu menilai tulisan orang itu punya maksud buruk dan ingin merusak suasana. Baik itu ngerusak suasana diskusi, ataupun suasana hati dia, yang dianggap bisa mengganggu keamanan diri dia.

Akibat lebih jauh lagi, sikap curiga berlebihan itu adalah bukan hanya menuduh yang kemudian bisa jadi tidak benar, tapi dari tuduhan-tuduhan itu kemudian bisa berubah jadi fitnahan.

Jadikan Dirimu Seperti Pygmalion – Hukum Berpikir Positif

Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh
piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya.

Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang
segala sesuatu dari sudut yang baik.

* Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi
Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.”

* Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan
Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu.”

* Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk
urusan lain yang lebih perlu”.

* Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia
malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan
makanan yang cukup di rumahnya.”

Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi
buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk
tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik
perbuatan buruk orang lain.

Iklan
Kategori:Psikologi
%d blogger menyukai ini: