Beranda > Tokoh > Karl May, Siapa dia?

Karl May, Siapa dia?

28 Agustus 2010
Sejauh yang saya tahu, media Indonesia yang paling banyak memuat artikel tentang Karl May adalah Intisari. Itu pun hanya dua kali. Pertama 1963 dan kedua 1992. Keduanya adalah saduran dari beberapa sumber luar negeri. Dengan kata lain, bagi media Indonesia, nama Karl May dianggap tidak layak berita. Sebenarnya, ini agak mengherankan, karena sejak 1950 nama Karl May telah masuk ke Indonesia. Juga dalam dua ensiklopedia Indonesia yang ada, lema Karl May selalu ada, meski selalu salah datanya.
Padahal tak kurang dari memoir Bung Hatta menyebutkan bahwa sejak 1919 ternyata masyarakat di zaman itu membaca Carl May (demikian Hatta mengejanya). Lebih mengejutkan lagi, buku-buku tentang para perintis kemerdekaan atau tentang Bung Syahrir oleh John D. Legge atau Robert Mrazek menyebutkan, betapa para perintis kemerdekaan terinspirasi karya May tentang arti kemerdekaan. Pengantar buku Matu Mona Pacar Merah juga menyebut-nyebut nama Karl May pada 1939 itu. Begitu juga feature di suatu harian tentang seorang profesor yang pensiun menyiratkan bahwa di awal 1940 anak-anak sekolah juga baca Karl May. Makin mengejutkan lagi, orang yang namanya Karl May ini ternyata pernah berkunjung juga ke Indonesia. Ya, tapi siapa dia? Terlahir sebagai Carl May (1842 – 1912), dia orang Jerman dari Saksen (daerah di sekitar Dresden, dulu masuk di Jerman Timur).
Karl May adalah penulis. Tapi tidak mau disebut novelis, meskipun dia menulis lebih dari 80 buku yang rata-rata setebal 550 – 600 lembar! Dia hanya mau disebut sebagai penulis cerita perjalanan. Uniknya, dari berbagai macam petualangan yang lokasinya di berbagai pelosok dunia, dan dengan sangat detailnya cara dia menggambarkan, hampir semua buku yang ditulis tidak berdasarkan perjalanan sebenarnya. Hanya satu buku saja yang betul-betul dibuat berdasarkan perjalanan sesungguhnya. Buku satu-satunya itu ialah tentang petualangannya di Indonesia! Meskipun dibalut dengan petualangan, inti karya Karl May adalah tentang persahabatan antarbangsa, perdamaian, antikekerasan, penyelamatan lingkungan, atau singkatnya tentang kemanusiaan.
Perhatikan komentar berikut dari orang yang namanya mungkin sudah Anda kenal: “Keseluruhan masa remaja saya berada di bawah pengaruhnya. Bahkan juga di masa-masa kini ketika saya sedang dalam waktu-waktu dirundung keputusasaan.” Orang yang mengatakan ini adalah Albert Einstein, si ahli fisika dan pemenang Nobel Fisika 1921 itu.
Selanjutnya, “Apa yang saya suka dari tulisannya adalah karena menginspirasikan keberanian untuk menegakkan perdamaian dan saling pengertian yang tertulis di hampir semua bukunya.” Ini pendapat Albert Schweitzer, pemenang Nobel Perdamaian 1952. Sedangkan Herman Hesse, pemenang Nobel Kesusastraan tahun 1946 menyatakan, ”Tulisannya yang penuh warna dan menggigit mewakili suatu jenis karya fiksi yang tidak bisa dilewatkan dan abadi.” Akhirnya, Bertha von Stuttner pemenang Nobel Perdamaian tahun 1905 mengatakan, “Di atas segala-galanya Karl May adalah seorang pencinta perdamaian (pacifist).”
[http://www.artikelpintar.com]
Iklan
Kategori:Tokoh
%d blogger menyukai ini: