Beranda > Berita Politik/Ekonomi/Budaya > Ternyata. . .Batik ‘Nelson Mandela’ Menjadi Barang Mahal di Afsel

Ternyata. . .Batik ‘Nelson Mandela’ Menjadi Barang Mahal di Afsel

31 Agustus 2010

Batik menjadi barang ekslusif di Afsel. Gara-gara sering dikenakan oleh mantan Presiden Nelson Mandela dan sejumlah menteri, harganya melambung tinggi.

Batik yang dijual di Afsel memang bukan batik biasa. Bahannya khusus dan dibuat oleh desainer-desainer ternama.

Mandela pertama kali mengenakan batik setelah diberi oleh mantan Presiden Soeharto ketika melakukan kunjungan ke Indonesia. Setelah itu, Madiba–julukan bagi Mandela, selalu mengenakan batik, termasuk orang-orang di kabinetnya.

Sejak dikenakan Mandela, batik tersebut menjadi barang mahal. Hanya masyarakat kelas atas saja yang tertarik menggunakannya.

Sebagai contoh, di sebuah toko di kawasan Sandton, Johannesburg, harga satu potong batik tangan panjang bisa mencapai 2.000 rand atau setara dengan Rp 2 juta.

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Afsel sedang berusaha keras agar publik di Afsel tahu jika batik yang dikenakan oleh pejuang anti-apartheid tersebut adalah produk Indonesia.

“Kita akan terus perjuangkan batik tersebut supaya masyarakat di Afsel mengenalnya dan menjadi produk andalan tanah air di sini,” ujar Kedubes RI di Afsel, Syahril Sabaruddin ketika bertemu dengan sejumlah wartawan asal Indonesia yang meliput Piala Dunia.

Namun untuk menjual batik di Afsel bukanlah hal mudah. Sebab para pengusaha Indonesia masih memiliki citra negatif terhadap negeri yang kini dipimpin oleh Jacob Zuma tersebut.

“Afsel selalu mendapat citra negatif. Orang Indonesia tahunya kalau Afrika itu hitam dan kumuh, tapi Anda sudah melihat sendiri kenyataannya bagaimana. Mereka sangat maju dalam bidang perekonomian,” papar Syahril.

Saat ini, nilai total perdagangan Indonesia dan Afsel mencapai USD 1,1 miliar. Ekspor yang dihasilkan mencapai USD 700 juta, sementara impor bernilai USD 400 juta.

Komoditi utama Indonesia yang dikirim ke negeri paling selatan di Afrika ini di antaranya adalah minyak kelapa sawit, produk garmen, karet, dan otomotif. Beberapa produk kreatif dari para perajin di Tanah Air juga menghiasi toko-toko .

“Batik memang masih minim. Tapi semoga lewat Piala Dunia ini dan lewat Mandela kita bisa meningkatkannya di tahun yang akan datang. Sebelum ada negara lain yang mengklaimnya lagi,” tutupnya.

[http://berita.agenbola.com]

Iklan
%d blogger menyukai ini: