Beranda > Kesehatan > Seputar Antibiotik. . .

Seputar Antibiotik. . .

9 September 2010

Antibiotik-merupakan obat yang sangat dibutuhkan bila seseorang menderita penyakit infeksi kuman yang tidak dapat sembuh secara alamiah. Namun, tidak semua infeksi ringan membutuhkannya. Misalnya, sebagian besar infeksi kulit dapat sembuh sendiri asal keadaan tubuh baik dan infeksinya tidak diganggu dengan digaruk. Bisul stadium permulaan sering dapat disembuhkan dengan kompres panas.

Antibiotik  juga merupakan obat yang sebagian besar tidak mempunyai efek farmakodinamik terhadap organ tubuh sendiri, seperti lazimnya obat lain. Misalnya, memacu jantung, melemaskan otot, melebarkan pembuluh darah, atau merangsang organ endokrin sehingga terjadi sekresi hormon seperti insulin.

Efeknya terlihat terhadap kuman yang menginfeksi organ tubuh. Kuman itu diperlemah atau dapat dibunuh olehnya, bila jenis antibiotiknya cocok. Suatu antibiotik tidak dapat membunuh semua kuman. Berbagai antibiotik mempunyai sifat membunuh hanya terhadap kuman tertentu. Jadi, bila pemilihannya tidak cocok, pelumpuhan kuman yang menyerang kita tidak akan berhasil dengan tuntas.
Seorang dokter harus dapat memilih antibiotik yang cocok untuk serangan kuman tertentu. Bila salah pilih, antibiotik itu akan mu-bazir, penyakitnya malah bisa menjadi lebih parah. Karena itu obat ini tidak boleh diberikan secara sembarangan. Bila ada puluhan jenis kuman yang berbahaya, setiap infeksi harus diobati dengan antibiotik tertentu pula.
Sayangnya, tidak setiap dokter paham memilih antibiotik yang cocok. Pemilihan juga dapat dibuat dengan tidak rasional bila hanya mendengarkan ceramah yang diorganisasi oleh produsen antibiotik tertentu, karena pilihan akan ditentukan oleh faktor pemasaran ketimbang ilmiah-rasional. Maka, tidak tepat pula bila masyarakat membeli antibiotik sendiri, yang hakikatnya dilarang oleh peraturan – yang melarang obat keras seperti antibiotik dibeli bebas oleh masyarakat tanpa resep dokter.
Larangan membeli antibiotik sendiri dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari efek buruk yang akan terjadi, seperti salah pilih, makin parah penyakit infeksinya, efek sampingan antibiotik, dan pengeluaran biaya yang mahal tanpa penyembuhan yang diharapkan. Belum lagi kemungkinan terjadinya resistensi kuman.
Bila pengobatan infeksi betul-betul membutuhkan suatu antibiotik, seharusnya dapat diprediksi kapan infeksi itu akan reda seandainya pilihan antibiotik sudah benar. Infeksi kulit atau infeksi mata akan mengalami perbaikan dalam 1 – 2 hari, sakit kencing dalam 1 – 2 hari, radang paru karena kuman dalam 1 – 3 hari, tifus setelah 5 – 7 hari, dan penyembuhan TBC setelah enam bulan. Bila perbaikan itu tidak terjadi, diagnosis penyakit atau obatnya mungkin salah.
Pengetahuan ini dapat dipakai masyarakat untuk mengontrol apakah obat antibiotiknya sudah terpilih dengan baik. Jadi, bila ada bisul yang diberi antibiotik, tapi tidak juga sembuh setelah 2 – 3 hari, pasti terjadi salah obat atau diagnosisnya “bukan bisul biasa”. Bila tifus tidak sembuh dalam 5 – 7 hari, kemungkinan besar diagnosis atau pengobatannya kurang tepat, atau ada sesuatu yang perlu dilacak oleh dokter Anda.
Jumlah antibiotik yang sudah direncanakan harus dihabiskan untuk menuntaskan penyembuhan. Namun, bila antibiotik tidak diberikan untuk penyakit yang benar membutuhkannya, penghentian pemberian antibiotik tidak akan menimbulkan akibat buruk.
Penjelasan di atas mungkin sudah membuat Anda mengerti bahwa membeli antibiotik sendiri di pasar atau di apotik tidak dibenarkan, karena akhirnya akan merugikan diri-sendiri: mubazir atau salah kaprah. Bertanya kepada dokter pun, lalu membeli tanpa resep, masih akan menimbulkan kesalahpahaman dalam dosis dan cara makannya, bila tidak dibeli melalui resep.
Apoteker semestinya juga menjadi penjaga gawang untuk resep yang mengandung kesalahan yang mencolok. Bila terdapat alamat atau telepon dokternya, apoteker harus menelpon dokternya untuk klarifikasi.
[http://www.artikelpintar.com]
Iklan
Kategori:Kesehatan
%d blogger menyukai ini: