Beranda > Tokoh > Sekilas Tentang I Gusti Ngurah Rai. .

Sekilas Tentang I Gusti Ngurah Rai. .

15 September 2010

Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai lahir di Desa Carangsari, Kabupaten Badung, 30 Januari 1917 bertepatan dengan terjadinya gempa bumi yang hebat di Bali. Gempa istilah Balinya adalah gejor atau gejer sehingga I Gusti Ngurah Rai sebelumnya bernama I Gusti Ngurah Gejor. Terlahir dari pasangan I Gusti Ngurah Patjung dengan I Gusti Ayu Kompyang. dan gugur sebagai pejuang kemerdekaan di desa Marga, Tabanan, 20 November 1946.

Beliau memimpin pasukan yang dikenal dengan nama Ciung Wenara yang mengobarkan perang habis – habisan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Perang sampai titik darah penghabisan ini dikenal dengan istilah “Puputan Margarana”. Pada perang ini yang terjadi di desa Marga, Tabanan, 20 November 1946, beliau beserta pasukan Ciung Wanara gugur, hingga kini setiap tanggal 20 Nopember diperingati rakyat Bali sebagai hari Puputan Margarana

Nilai – nilai keteladanan beliau kelak di hormati negara sebagai salah satu pahlawan besar dari Bali dan diabadikan sebagai nama bandara serta jalan terbesar di Bali dan gambar pada mata uang resmi Indonesia.

Bersama 1.372 anggotanya pejuang MBO (Markas Besar Oemoem) Dewan Perjoeangan Republik Indonesia Sunda Kecil (DPRI SK) dibuatkan nisan di Kompleks Monumen de Kleine Sunda Eilanden, Candi Marga, Tabanan.

Detil perjuangan I Gusti Ngurah Rai dan resimen CW dapat disimak dari beberapa buku, seperti “Bergerilya Bersama Ngurah Rai” (Denpasar: BP, 1994) kesaksian salah seorang staf MBO DPRI SK, I Gusti Bagus Meraku Tirtayasa peraih “Anugrah Jurnalistik Harkitnas 1993″, buku “Orang-orang di Sekitar Pak Rai: Cerita Para Sahabat Pahlawan Nasional Brigjen TNI (anumerta) I Gusti Ngurah Rai” (Denpasar: Upada Sastra, 1995), atau buku “Puputan Margarana Tanggal 20 Nopember 1946″ yang disusun oleh Wayan Djegug A Giri (Denpasar: YKP, 1990).

ANDAIKAN SEMUA RAKYAT DI BALI MEMIHAK NICA BIARLAH SAYA SENDIRI MELANJUTKAN PERJUANGAN INI” ini adalah salah satu ungkapan yang pernah beliau lontarkan sebagai bukti keteguhan jiwa beliau membela bangsa ini. Gambaran lain dari nilai juang beliau adalah surat belasan beliau kepada tentara NICA

……… tg. 18 Mei 1946,
Kepada Jth.
Toean Overste Termeulen
di
D E N P A S A R.
M E R D E K A !
Soerat telah kami terima dengan selamat. Dengan singkat kami sampaikan djawaban sebagai berikoet:
Tentang keamanan di Bali adalah oeroesan kami. Semendjak pendaratan tentera toean, poelau mendjadi tidak aman. Boekti telah njata, tidak dapat dipoengkiri lagi. Lihatlah, penderitaan rakjat menghebat. Mengantjam keselamatan rakjat bersama. Tambah2 kekatjauan ekonomi mendjirat leher rakjat.
Keamanan terganggoe, karena toean memperkosa kehendak rakjat jang telah menjatakan kemerdekaannja.
Soal peroendingan kami serahkan kepada kebijaksanaan pemimpin2 kita di Djawa. Bali boekan tempatnja peroendingan diplomatic. Dan saja boekan kompromis. Saja atas nama rakjat hanja menghendaki lenjapnja Belanda dari poelau Bali atau kami sanggoep dan berdjandji bertempoer teroes sampai tjita2 kita tertjapai.
Selama Toean tinggal di Bali, poelau Bali tetap mendjadi belanga pertoempahan darah, antara kita dan pihak toean.
Sekian, harap mendjadikan makloem adanja.
Sekali merdeka, tetap merdeka
a/n. DEWAN PERJOANGAN BALI.
Pemimpin:

[http://balikami.com]

( I Goesti Ngoerah Rai).

Iklan
Kategori:Tokoh
%d blogger menyukai ini: