Beranda > Sains > Ngetes Air Limbah Dengan Ikan Mas

Ngetes Air Limbah Dengan Ikan Mas

16 September 2010

Sepintas, gelontoran air kamar mandi dan luncuran sisa-sisa makanan atau residu olahan bahan yang dimasak tidak seberbahaya limbah industri. Namun, begitu diteropong lebih tajam, baru kita menyadari, mengapa limbah RT perlu dilewatkan instalasi pengolahan air limbah sebelum dibuang ke lingkungan. Perlakuannya memang jadi kayak limbah industri. Kalau tidak, lingkungan kita bisa berubah jadi sumber penyakit.

Perlu diketahui, suhu limbah RT umumnya di atas suhu normal air, sekitar 25 – 50oC. Tinggi rendahnya tergantung pada aktivitas atau sumber penghasil limbah. Kekeruhan limbah RT juga cukup tinggi, sejalan dengan kadar bahan yang terlarut di dalamnya. Lalu pH-nya cenderung rendah, alias asam sifatnya. Sudah begitu, kadar oksigen terlarutnya juga rendah. Padahal oksigen diperlukan untuk mengoksidasi secara kimiawi zat-zat organik dalam limbah. Karena banyak mengandung bahan organik dan anorganik, chemical oxygen demand (COD) limbah RT umumnya tinggi.
Senyawa lain yang berkonsentrasi tinggi yaitu ortofosfat, Fe2+ (ferro), Cl-, SO4 2-, amonia, nitrat, nitrit, Ca2+, dan Mn2+. Ortofosfat membawa masalah dalam perairan, karena merangsang pertumbuhan ganggang. Ferro tinggi dalam air menimbulkan kerusakan, seperti pengaratan atau kerusakan pada porselen. Dalam keadaan nirhawa, sulfur yang dalam rumah tangga sebagian besar berupa SO4 2-, dapat direduksi menjadi H2S oleh bakteri yang menimbulkan bau sangat busuk.
Begitu pun dengan nitrat, nitrit, dan amonia. Nitrit, khususnya, bisa mengganggu pengangkutan oksigen, bila mencemari air atau makanan yang kita konsumsi (terutama bayi). Sebab, nitrit dapat mengikat hemoglobin darah. Dari sisi biologis pun, limbah RT berpotensi menenteng jazad renik (mikrobiologis) yang bisa membahayakan kesehatan, misalnya bakteri E. coli.
Ketimbang lama menunggu upaya Pemda atau Pemkot menangani limbah RT kita, mendingan berupaya sendiri sedini mungkin. Salah satu kiat yang mudah dilakukan yaitu memanfaatkan jasa tanaman air. Kiat ini dikenal dengan istilah bioremediasi (pemurnian secara biologik). Caranya, tampung semua aliran air dari beberapa rumah tangga ke sebuah kolam kecil berukuran 2 x 2 x 1 m. Ukurannya bisa disesuaikan, tergantung pada banyaknya limbah RT di suatu lingkungan. Di kolam itu kemudian ditanami empat jenis tanaman air, yakni teratai (Nymphaea firecrest), mendong (Iris sibirica), kiambang (Salvinia sp.), dan hidrilla (Hydrilla verticillata).
Kiambang, yang seluruh bagiannya mengambang di permukaan air, berfungsi menetralisir limbah yang mengapung di permukaan. Hidrilla, yang seluruh bagian tanamannya berada di dasar kolam, bertugas menetralkan limbah yang mengendap di sana. Teratai dan mendong menetralisir limbah di bagian tengah kolam, sekaligus di dasar (bagian akarnya) dan di permukaan (bagian daunnya). Sebuah hasil penelitian menyebut, limbah RT yang sudah melalui proses bioremediasi umumnya memenuhi syarat baku mutu air limbah.

O, ya, kalau belum yakin dengan hasil penelitian tadi, coba dites dengan memasukkan beberapa ekor ikan mas atau tawes ke kolam. Bila tak ada ikan yang mabuk, apalagi mati, itu tandanya sudah aman. Selanjutnya, silakan dialirkan ke lingkungan tanpa perlu waswas air kolam itu akan mencemari badan-badan air macam sungai, danau, dan lainnya. [http://www.artikelpintar.com]

Iklan
Kategori:Sains
%d blogger menyukai ini: