Beranda > Dunia Internet & Jaringan, Dunia Medis, Kesehatan, Teknologi > Apotik Online. . .Belanja Obat Lewat Internet. . .

Apotik Online. . .Belanja Obat Lewat Internet. . .

26 November 2010
Tak lama lagi, kita mungkin bisa beli obat tanpa harus datang ke apotek. Cukup dengan menyalakan komputer dan klik klik … obat yang kita perlukan pun akan segera datang. Namun, cara belanja obat secara elektronik ini masih menyisakan sedikit kekhawatiran.
Seorang lelaki separuh baya tampak tepekur. Sebabnya sederhana saja, ia ingin sekali membeli Viagra. Maklum, keluhan istri tercinta, makin hari kian gencar saja. Tapi untuk menanyakan pil ajaib itu di apotik, apalagi beli langsung di gerai obat, si bapak bukan main sungkan. Sampai akhirnya, dia mendapat saran dari seorang teman penggemar dunia maya. “Kenapa enggak beli lewat internet?” saran sang teman. Iya juga ya.
Di AS sudah umum
Belakangan, dunia kesehatan memang makin kuat merambah internet. Baik informasi yang berhubungan dengan penyakit, obat, maupun produk-produk yang berhubungan dengan kesehatan secara umum. Tentu saja, ini memberikan wajah baru bagi dunia pelayanan medis. Karena servis dapat diberikan, tanpa adanya interaksi langsung antara pasien dengan tenaga medis, apoteker maupun penjual obat.
Di Amerika Serikat, peran internet sudah berkembang sangat pesat. Pada tahun 1999 misalnya, terdapat 200 situs farmasi yang sekaligus menjual produk kesehatan, termasuk obat melalui layar komputer. Bahkan, sebuah laporan memperkirakan adanya kecenderungan meningkatnya angka penjualan obat lewat internet (e-commerce). Diramalkan, pada tahun 2004 nilai transaksinya mencapai AS $ 20 juta hingga AS $ 25 juta. Jauh lebih tinggi ketimbang hasil penjualan tahun 1999 yang hanya AS $ 1,9 juta. Salah satu situs farmasi penting dan cukup terkenal dalam penjualan obat dunia maya ini adalah Merckmedco.com. Menurut Dow Jones, situs ini sanggup melayani lebih dari 85.000 resep setiap pekannya.
Penjualan obat via internet tampaknya akan menjadi nge-trend di masa depan. Barangkali karena banyaknya kemudahan buat konsumen yang ditawarkan. Terutama dalam mengakses informasi sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya sebelum membeli suatu produk. Termasuk kesempatan membandingkan harga, tentunya. Keuntungan lain, lantaran tak ada kontak langsung, konsumen bakal terjaga privasinya. Terutama jika obat-obat yang dibeli masuk kategori untuk kepentingan sangat pribadi.
Belanja obat lewat internet juga sangat menghemat waktu. Terutama buat orang-orang tertentu, seperti eksekutif supersibuk, penderita cacat maupun para manula yang memiliki kendala dalam mengunjungi rumah obat konvensional. Tak heran, banyak yang memprediksi, dengan berbagai kemudahan tersebut, nantinya layar monitor bakal menggantikan tugas apoteker. Terlalu ekstrem mungkin, tapi siapa tahu?
Masih perlu kehati-hatian
Toh, tak ada gading yang tak retak. Seperti mata uang mempunyai dua sisi, belanja obat lewat internet pun tidak hanya menawarkan kemudahan dan keuntungan kepada konsumen. Selalu saja terbuka peluang terjadinya penyelewengan, bahkan penipuan. Terutama karena sistem pelayanannya tidak mengenal kontak langsung. Satu-satunya komunikasi antara calon pembeli dan penjual hanyalah pengisian kuesioner. Dengan keterbatasan arus informasi tersebut, pasien mungkin kehilangan kesempatan memperoleh diagnosis yang tepat terhadap penyakit yang dideritanya.
Ketidakakuratan diagnosis tentu berpengaruh ke soal obat. Sulit untuk memastikan, apakah obat yang dibeli nantinya sesuai dengan yang dibutuhkan. Atau apakah spesifikasinya sesuai dengan yang dipromosikan. Bahkan bukan tak mungkin, obat yang datang justru sudah kedaluarsa.
Lebih jauh lagi, dengan banyaknya situs yang menawarkan obat-obat mujarab, konsumen kadang tak lagi memperhatikan keandalan sebuah situs. Sebagai awam, memang sulit membedakan, mana situs farmasi yang benar-benar menawarkan obat berkhasiat, aman, serta memenuhi standar pembuatan obat yang baku.
Itu sebabnya, sebuah lembaga nirlaba di AS, National Association of the Boards of Pharmacy (NABP) memperkenalkan program Verified Internet Pharmacy Practice Sites (VIPPS), yang dibuat untuk memberdayakan konsumen, agar tidak terjebak situs-situs ilegal yang belum teruji keseriusannya. Situs-situs yang mau masuk kategori “aman” harus taat pada aturan yang dibuat NABP. Syarat lainnya, mengizinkan seluruh informasi situs disimpan dalam bank data VIPPS. Serta memperbolehkan tim NABP mengawasi pelaksanaan kegiatan dan memberi saran. Hingga saat ini, ada sekitar 15 situs farmasi telah memperoleh sertifikasi VIPPS
Lalu, bagaimana perkembangan apotik masa depan ini di Indonesia? E-commerce memang mulai banyak dilirik sebagai salah satu alternatif melakukan transaksi jual beli. Namun, sejauh ini belum ada situs khusus farmasi Indonesia yang menawarkan transaksi jual beli obat melalui internet. Kalau pun ada yang menawarkan transaksi produk-produk kesehatan, masih sebatas makanan atau minuman menyehatkan, bukan berbentuk obat-obatan.

Namun sebagai warga dunia, tak ada salahnya jika para pengguna internet mengakses situs-situs farmasi luar negeri. Sambil menunggu berkembangnya situs-situs sejenis bernuansa lokal. Agar nantinya sudah siap lahir batin, ketika apotek internet marak di tanah air.

[artikelpintar.com]

Iklan
%d blogger menyukai ini: