Beranda > Sejarah & Asal - usul > Cerita Dibalik Barcode. . .

Cerita Dibalik Barcode. . .

13 Desember 2010

Jika Anda sering berbelanja di supermarket  tentu kenal dengan benda ini. Ya! Barcode. Garis-garis hitam pada kemasan itu “menyimpan” identitas suatu barang. Dengan “ditembak” sinar merah tipis, harga suatu barang langsung tertera di monitor kasir. Sedangkan alat pembacanya disebut pemindai (barcode scanner).

Cerita di balik barcode tidaklah sesederhana tampilannya. Sebelum ditemukan barcode, pemilik toko dipusingkan dengan urusan catat mencatat barang dagangan di toko mereka satu per satu. Konon, model kartu berlubang (punch card) yang dikembangkan di AS tahun 1890 diharapkan dapat membantu kerepotan di toko. Caranya? Begini, pengunjung melubangi sebuah kartu sebagai penanda barang yang dipilihnya. Kemudian saat mereka keluar, kartu tersebut dimasukkan ke dalam sebuah alat pembaca.
Masalahnya, jika belanjaannya segunung pembeli kerepotan dalam lubang-melubangi. Selain itu, alat pembacanya mahal harganya sehingga banyak toko yang masih berpikir panjang untuk menggunakannya. Singkat kata, ide itu kurang ampuh.
Titik terang teknologi barcode mulai muncul pada tahun 1948, diilhami sebuah percakapan antara seorang presiden direktur perusahaan jaringan makanan dengan dekan Institut Teknologi Drexel. Presdir meminta sang dekan untuk membuat sebuah alat yang bisa membaca informasi produk secara otomatis, ketika pembeli keluar dari toko. Sayangnya, sang dekan menolak. Tanpa mereka sadari, ada seorang mahasiswa pascasarjana mencuri dengar percakapan itu. Namanya Benhard Silver. Ia kemudian menceritakan soal itu pada sahabatnya, Norman Joseph Woodland, seorang dosen di Drexel. Mula-mula ide mereka adalah menggunakan pola dari tinta yang akan berpendar di bawah sinar ultraviolet. Namun masalah pun muncul, kestabilan tinta susah dijaga dan harga cetak yang lumayan tinggi karena menggunakan tinta khusus.
Setelah beberapa bulan jatuh bangun, Woodland akhirnya sampai dengan kode-kode batang kurus (linear barcode). Segera saja Woodland dan Silver mematenkan penemuan tersebut tanggal 20 oktober 1949. Secara garis besar, simbol-simbol batang ini tersusun atas empat buah garis putih dengan latar belakang garis hitam. Garis pertama adalah garis penanda dan posisi ketiga garis lainnya berjarak tertentu dengan patokan garis pertama. Jika jumlah garis ditambah maka akan lebih banyak lagi klasifikasi yang bisa dikodekan. Dengan sepuluh garis akan didapat 1.023 klasifikasi yang bisa dikodekan.
Bagaimana dengan angka di bawahnya? Apa tugasnya? Angka itu sebenarnya telah ditunjukkan dalam bentuk garis-garis yang dibaca pemindai. Namun, jika pemindai gagal membaca, maka kasir akan sibuk mengetik angka-angka itu. Temuan Woodland-Silver ini diakui tanggal 7 Oktober 1952. Sistem pembacaan barcode pertama kali dipasang pada sebuah toko bernama Kroger di Cincinati. Barcode dipasang berupa stiker, bukan tercetak langsung pada kemasannya. Setelah tiga tahun komersialisasi barcode, baru disadari faktor yang memperlambat penyebarannya adalah tidak adanya standar yang dipakai perusahaan.

Tahun 1969, Asosiasi Nasional Jaringan Makanan AS berinisiatif membuat sistem barcode yang akan secara serempak dipakai industri. Hasilnya? Uniform Product Code (UPC), simbol kode barcode yang dipakai sampai sekarang ini.

[artikelpintar.com]

Iklan
%d blogger menyukai ini: